Waktunya Khitan Sang Buah Hati

Berbicara tentang khitan atau sunat, banyak ya Mam mitos yang beredar di masyarakat. Contoh, ada yang beranggapan sunat yang dilakukan pada saat anak masih terlalu kecil, akan memengaruhi ukuran alat vital si kecil nantinya. Anggapan ini keliru kok. Karena sebenarnya, disunat pada usia bayi, usia balita, ataupun menjelang akil balig tak akan memengaruhi fungsi dan ukuran alat vital. Ukuran alat vital, berkaitan dengan hormon, bukan sunat.

Jadi tak perlu khawatir bila karena alasan kesehatan atau lainnya, si kecil harus disunat pada saat masih bayi. Yang kerap menjadi pertanyaan orangtua sebenarnya berapa usia tepat anak untuk disunat? Sebenarnya, tidak ada batasan minimal usia untuk anak dikhitan. Karena secara medis, tujuan utama dari sunat adalah membersihkan diri dari berbagai kotoran serta penyebab penyakit yang mungkin melekat pada kulupnya. Jadi semakin cepat disunat, akan semakin baik.

Takut Sakit

Hanya saja, tentu yang menjadi tantangan bagi orangtua adalah tak selalu mudah membujuk anak untuk khitan. Alasan buah hati umumnya takut sakit. Terkait dengan ini Psikolog Fitriani F. Syahrul, M,Si, Psi, memberikan kiat, yakni jangan sekali-kali menggunakan kata sunat untuk menakut-nakuti anak. Terkadang orangtua akan berujar, seperti ini “Awas ya Mama sunat kalau kamu tidak mau makan” atau “Kalau nakal nanti Mama sunat” . “Kata-kata ini membuat anak beranggapan bahwa sunat itu sesuatu yang menakutkan,” jelas psikolog yang akrab disapa Bunda Fani ini.

Lalu bagaimana teknik agar anak mau menjalani khitan dengan berani? Tak lain dengan memotivasi anak. Motivasi akan membuat anak tergerak tanpa harus menerima keharusan dikhitan yang menurutnya tidak mengenakkan.

Siap Fisik dan Mental

Nah, sekarang tugas Mama dan Papa mencari waktu yang pas anak untuk khitan. Misal pada akhir tahun ini, mumpung anak sedang libur. Tentukan tanggal lalu siapkan anak secara ­ sik dan mental. Berikut langkahlangkahnya:

• Sesering mungkin ajak anak ke hajatan khitanan. Di sana anak akan menangkap kesan khitan sebagai suatu yang menyenangkan, yakni pesta meriah dan orang-orang yang datang membawa hadiah.

• Saat di sana jagalah agar anak tidak menyaksikan proses khitanan itu sendiri. Jika melihat anak sebayanya menjerit-jerit kesakitan atau melihat kulup dipotong, ia akan menolak mentah-mentah ide dikhitan.

• Idealnya anak memiliki waktu kira-kira 2 minggu sebelum hari H agar ia bisa menyiapkan diri.

• Bukalah ruang diskusi dengan anak perihal khitan yang memungkinkan anak mengungkapkan perasaan atau pandangannya mengenai hal tersebut.

• Ada baiknya jika Papa berbagi pengalaman “menyenangkan” pada saat dulu dikhitan. Strategi ini terbukti bisa membantu memotivasi dan menumbuhkan kepercayaan diri anak. Namun sekali lagi sharing semacam ini lebih mengedepankan hal-hal yang menyenangkan dan bukan malah sebaliknya.

• Yang tak kalah penting, meski anak mungkin masih takut, orangtua sebaiknya tidak menyembunyikan hal yang sebenarnya. Contoh dengan mengatakan “Disunat itu enggak sakit kok. Kan kamu dibius.” Bius memang ditujukan agar pasien “tertidur” sehingga tidak merasakan sakit. Namun jangan lupa, saat proses pembiusan, jarum suntik akan menusuk kulit dan daging yang bisa menimbulkan rasa sakit. Belum lagi rasa nyeri setelah pengaruh biusnya hilang.

• Berikan kemantapan pada anak bahwa dikhitan itu memang sakit. Usai itu pun ia tidak bisa beraktivitas bebas untuk sementara waktu. Namun dengan dikhitan, dirinya bisa lebih sehat, lebih bersih, dan tidak akan diejek oleh temanteman.

Sebisa mungkin pahami anak. Kalau ia takut dikhitan, jangan pernah membandingbandingkannya dengan temanteman sebaya atau siapa pun yang tidak bermasalah saat dikhitan. Sebaiknya, mintalah teman-teman dekatnya untuk sama-sama membujuk dan memotivasinya. Yang penting kita tidak memojokkan anak.