Trump Picu Ketegangan Baru Perang Dagang

Presiden Amerika Serikat Donald Trump tak henti membuat ketegangan dengan Cina. Akhir pekan lalu, Trump, yang diusung oleh Partai Republik, menyatakan tidak segan-segan akan menambah jumlah barang impor asal Cina yang akan dinaikkan tarifnya. Ia menyebut tak menutup kemungkinan penyesuaian tarif kembali diberlakukan terhadap produk Cina senilai US$ 267 miliar.

“Saya harus menguat kepada Cina karena itu yang diperlukan,” kata Trump sebagaimana dikutip Reuters, kemarin. Bila langkah itu diambil, ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Cina yang berlangsung dalam beberapa bulan terakhir diyakini bakal semakin meningkat. Sejauh ini Amerika berencana menaikkan tarif impor terhadap barang asal Cina senilai US$ 200 miliar.

Rencana kebijakan ini tengah memasuki periode dengar pendapat publik. Hingga saat ini pun belum jelas berapa besar tarif yang akan dikenakan, apakah sebesar 10 persen atau 25 persen. Trump menuturkan bahwa pengenaan tarif senilai US$ 200 miliar bisa segera diberlakukan tergantung dari sikap yang akan diambil Cina. Trump menyebut kenaikan tarif impor berikutnya, yakni untuk barang senilai US$ 267 miliar, siap diberlakukan.

Sejak Juli lalu, pemerintah Amerika telah mengenakan tarif impor baru sebesar 25 persen terhadap produk asal Cina senilai US$ 34 miliar. Pengenaan tarif baru kembali diberlakukan pada bulan lalu, yakni terhadap produk ekspor Cina ke AS senilai US$ 16 miliar. Cina tidak tinggal diam. Presiden Cina Xi Jinping membalasnya dengan memberlakukan tarif impor 25 persen terhadap barang asal Amerika senilai US$ 50 miliar.

Semakin kencangnya genderang perang dagang AS-Cina ini mulai berdampak ke industri Negeri Abang Sam. Saham perusahaan telepon seluler pintar asal Amerika Serikat, yakni Apple Inc, melemah 1,80 poin atau 0,81 persen menjadi 221,30 pada akhir perdagangan Nasdaq pekan lalu. Rencana Trump memperluas kebijakan tarif impor terhadap produk senilai US$ 267 miliar dari Cina dikhawatirkan akan merambah ke sejumlah peralatan teknologi buatan Apple. Manajemen Apple menyatakan sejumlah produknya—yang juga dibuat di Cina— kecuali iPhone, akan terkena tarif baru tersebut.

Apple mengatakan dampak terbesar dari kebijakan tarif itu justru akan ditanggung oleh AS ketimbang Cina. “Ini akan menghasilkan pertumbuhan dan daya saing Amerika yang lebih rendah serta harga yang lebih tinggi untuk konsumen Amerika,” kata Apple dalam keterangan tertulisnya. Hal senada disampaikan oleh Chief Executive Officer Jo-Ann Fabric dan Craft Stores, Jill Soltau. Ia mengatakan tarif yang diusulkan untuk kain, benang, dan bulu akan merugikan perusahaan serta pelanggannya.

Soltau mau tidak mau mengimpor sebagian besar kain asal Cina lantaran tidak ada pemasok domestik yang sanggup memenuhi persyaratan perihal volume dan kualitas. “Kami mendukung upaya presiden meningkatkan neraca perdagangan dengan Cina, tapi menargetkan komponen kain dan kerajinan bukanlah solusi yang tepat,” kata Soltau seperti dikutip CNN.

Penasihat ekonomi Gedung Putih, Larry Kudlow, menuturkan akan mengevaluasi hasil dengar pendapat publik sebelum mengenakan barangbarang senilai US$ 200 miliar yang akan terkena tarif impor baru. Kantor Perwakilan Perdagangan AS menerima sedikitnya 6.000 masukan publik. Mayoritas datang dari perusahaan yang mengeluh kesulitan mendapatkan barang alternatif dari dalam negeri.