Sektor Bisnis Di Bayangi Tahun Politik, Perang Dagang & Rupiah

Sektor Bisnis Di Bayangi Tahun Politik, Perang Dagang & Rupiah

Di pengujung tahun ini, sentimen perang dagang global masih membayangi perekonomian Indonesia. Di saat yang sama, suhu politik nasional kian menghangat dan menjadi perhatian dunia usaha. Meski demikian, para pebisnis di Tanah Air optimistis dan bersiap tancap gas untuk memaksimalkan ekspansinya di sisa tahun ini. Optimisme para pengusaha tergambar.

Keyakinan para pebisnis di kuartal terakhir tahun ini naik dibanding kuartal sebelumnya. Di kuartal IV, indeks KCCI di level 3,63, naik dibanding kuartal III di level 3,45. Pada setiap variabel, keyakinan para CEO juga cenderung meningkat. Skor tertinggi adalah kategori ekspansi bisnis, yakni 4,30. Angka itu naik 8,86% dibanding kuartal ketiga segede 3,95. Adapun skor terendah ekonomi global, yakni 3,10. Sebagian besar CEO masih pesimistis dengan pemulihan ekonomi global. Kondisi politik turut menjadi perhatian pebisnis.

Skor politik nasional sedikit meningkat dari 3,15 di kuartal III jadi 3,30 di kuartal IV. Mayoritas pebisnis memilih netral atas situasi politik nasional. Direktur Utama (Dirut) PT Lookman Djaja Kyatmaja Lookman, mengharapkan pemilu legislatif dan pilpres damai. Sebab, kondisi ekonomi global masih bergejolak. Saya harap pemerintah lebih mendengar dunia usaha agar kita bisa bersama-sama melalui gejolak global, ungkap Kyatmaja kepada media, akhir pekan lalu.

Dirut PT Krakatau Steel Tbk (KRAS), Silmy Karim, mengatakan kondisi makro ekonomi masih cukup menantang, meski di beberapa sektor tumbuh. Sementara, pertarungan politik tak bisa dihindari. Yang penting bisa tetap menjaga stabilitas keamanan dan tidak anarkis, ujar dia. Saat ini, Presiden Direktur Komatsu Indonesia, Pratjojo Dewo, juga menilai konsumsi masyarakat agak melemah. Pebisnis lebih cenderung wait and see, terutama menyikapi perang dagang antara Amerika Serikat dan China. Belum lagi tren pelemahan rupiah.

Presiden Direktur PT Hyundai Mobil Indonesia, Mukiat Sutikno menilai secara keseluruhan Indonesia dalam jalur yang benar. Tapi kondisi ekonomi global kurang baik, ditambah kecemasan daya tahan rupiah. Ia berharap pemerintah kembali meningkatkan kepercayaan agar investasi di Indonesia semakin menarik. Johannes Suriadjaja, Presdir PT Surya Semesta Internusa Tbk menjelaskan, proyek infrastruktur menjadikan Indonesia lebih kompetitif dan berpotensi jadi basis manufaktur. Makanya kami akan meneruskan rencana bisnis, meski dibayangi perang dagang AS dan China, ujar dia. Dirut PT Sariguna Primatirta Tbk (CLEO) Belinda Natalia bilang, Indonesia saat ini masih bertahan dengan inflasi 3,18% dan pertumbuhan ekonomi di kisaran 5%. Kami dukung pemerintah ambil kebijakan tepat sasaran agar investor percaya, kata dia.