Pilih Jadi Penumpang Atau sopir?

Sejatinya Mercedes-Benz S-Class bukan diciptakan sebagai driver-oriented car. Kenyamanan dan kemewahan maksimal tak berfokus pada pengemudi. Namun lebih ditujukan untuk penumpang di kursi belakang. Lalu bagaimana jika mobil ini dipakai berlibur tanpa bantuan sopir?

Postur dan dimensi S 400L Exclusive ini cukup besar. Kelapangan kabin dan penggunaan jok berbusa tebal khas limosin membuatnya terasa sebagai sebuah kabin pesawat first class. Apalagi material berbalut kulit cokelat di sekujur interior menghadirkan nuansa mewah. Namun dimensinya ini membuat pemilihan rute jalan musti lebih selektif. Jalan protokol lebar jadi pilihan utama. Sensor parkir bisa sedikit membantu di jalanan sempit namun cukup merepotkan dan bikin was­was terjadi serempetan saat berpapasan dengan mobil lain. Itulah konsekuensi yang musti dibayar dari kelapangan kabin.

Meski besar, namun saat mengemudikannya tak terasa sulit. Manuver masih lincah dan bahkan radius putar kemudi cukup baik. Memang sulit buat menandingi posisi duduk di kursi belakang. Apalagi sisi sebelah kiri. Di situ ada fitur yang mampu menggeser kursi penumpang depan ke posisi paling maju. Sehingga ruang kaki penumpang kiri belakang menjadi sangat lapang. Penumpang yang duduk di kursi kiri belakang cukup menekan tombol di doortrim untuk mengoperasikan fitur ini. Saat posisi kursi penumpang depan mentok ke depan, akan muncul foot rest mungil dari bagian lantai di belakang kursi depan.

Penumpang kiri belakang pun mampu memanfaatkannya. Bukan hanya monitor TV yang mampu dioperasikan penumpang belakang. Kontrol AC mandiri, tirai kaca samping dan belakang, hingga penutup moonroof dapat dioperasikan lewat tombol di doortrim. Bahkan tersedia outlet listrik 230 volt (150 watt) yang mampu menge­charge baterai laptop atau gadget yang lain. Harus diakui, kenyamanan pengemudi tak bisa sebanding dengan penumpang belakang. Namun fitur kendali mobil terasa lebih maksimal. Layar monitor multimedia berukuran besar di tengah dasbor cukup atraktif. Pengoperasinnya juga mudah.

Namun kontrol touchpad yang ada di konsol tengah terasa kurang presisi dan sensitif. Untung saja pemilihan menu di layar monitor masih dapat difungsikan lewat tombol secara manual. Mengemudikan S 400L dalam jarak jauh dan macet terasa nyaman. Bukan hanya karena kursi dilengkapi embusan udara dingin AC, namun juga tingkat peredaman kabin yang sangat baik. Biarpun saat dipakai belibur di seputaran Jakarta tak terjebak macet parah, toh rasa lelah berkendara bisa tereduksi.

Kenikmatan mengemudi malam hari juga didukung ambiance light kabin yang mampu diatur warna cahayanya. Buat mobil dengan bobot nyaris 2 ton, S 400L memiliki cukup tenaga. Akselerasi terasa mudah dan turbo lag juga minim. Janganlah berharap dari spesifikasi tenaga 333 dk yang meletupletup karena memang mobil ini bukan didesain sebagai sportscar. Luapan tenaga tersalur halus hingga pengemudi dan penumpang seakan dibuai saat berakselerasi hingga kecepatan tinggi.

Jika mau lebih responsif, mode transmisi sport sedikit mengobati kerinduan untuk mengemudi lebih agresif. Kinerja suspensi udara di mobil ini patut diacungi jempol. Selayaknya sebuah limosin yang mengutamakan kenyamanan, sudah sewajarnya peredaman goncangan permukaan jalan jadi perhatian utama. Bahkan tersedia fitur pengaturan mode suspensi sport jika dirasa mode comfort terlalu empuk. Toh begitu, mode sport­nya pun masih terasa empuk. Kinerja suspensi yang prima paling terasa saat melibas permukaan jalan keriting atau speed trap pada kecepatan tinggi. Sebagai sebuah limosin, S 400L sukses menghadirkan kenyamanan dan kemewahan maksimal buat penumpangnya. Namun jika mengemudi yang jadi orientasi utama, siap­siap iri dengan penumpang yang Anda bawa.