Meneropong Penyakit Ikan 2019 Bagian 2

Tingkat kematiannya mencapai 75%100%. Pada koi ukuran 20-30 g/ekor atau berumur setahun, kematian penyakit yang disebut juga Koi Sleeping ini mencapai 60%75%. “Kematian massal terjadi dua-tiga hari atau mencapai dua minggusetelah tanda klinis terlihat. Wabah terjadi pada suhu 15°- 20°C. Hingga saat ini belum menjadi wabah besar karena suhu air budidaya Indonesia mencapai lebih dari 25°C,” ulasnya. Budi memprediksi, serangan penyakit pada 2019 sama dengan tahun lalu. Pasalnya, masih belum maksimalnya penanganan untuk mengurangi penyakit ikan. Kematian massal akibat penyakit infeksi cenderung rendah tetapi kematian massal karena lingkungan masih elatif tinggi.

Kematian ikan di Keramba Jaring Apung (KJA) umumnya karena upwelling (pembalikan massa air) hingga menyebabkan berkurangnya oksigen, Streptococciasis, Aeromoniasis, ancaman Tilapia Lake Virus (TiLV), dan KHV. Kematian ikan yang dibudidayakan di kolam dan bak karena deplesi oksigen, kualitas lingkungan, parasit dan cendawan, bakteri, serta virus. Sedang kan, ikan budidaya laut menghadapi ancaman utama penyakit virus, seperti Scale Drop Virus dan Viral Nervous Necrosis (VNN), selain penyakit bakteri dan parasit.

Solusi Budidaya Ikan Bicara penyakit ikan, menurut Budi, berarti membahas upaya manusia menjaga budidaya tambak. Perlu perhatian khusus untuk meningkatkan biosekuriti agar terhindar dari kegagalan panen. Tata ruang hijau dan penerapan teknologi dalam budidaya perikanan air tawar menjadi solusi untuk meningkatkan capaian yang ditargetkan. Con tohnya dengan bioflok, yaitu teknologi budidaya intensif dan ramah lingkungan.

Teknologi ini memanfaatkan sisa pakan dan kotoran yang diolah oleh mikroorganisme menjadi flok sebagai makanan ikan. “Budidaya tambak dalam kawasan budidaya harus ada kawasan hijau untuk menerima limbah yang dapat disaring dengan teknologi. Kurang lebih harus ada 30% dari wilayah budidaya untuk ruang hijau. Kecenderungan yang intensif dalam hal ini akan berdampak luar biasa. Bioflok dapat menaikkan tren produksi yang sangat bagus hingga mencapai 30%-33% sedangkan dari aspek penyakit dapat memotong rantai penyakit,” ungkapnya.

Sementara itu, Heru Dwi Wahyono, Computer and Information Engineer, Agency for the Assessment and Application of Technology Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menyebutkan, teknologi sangat dibutuhkan para petambak, salah satunya untuk mengetahui kualitas air kolam budidaya. Jika kolam mengalami pencemaran, maka akan bisa ditindaklanjuti penanganannya. Pemerintah telah mengembangkan teknologi Online Monitoring Kualitas Air (Onlimo) buatan lokal. Onlimo berguna memantau kualitas air secara online dan real time, mendukung pengendalian pencemaran lingkungan di instansi atau lembaga, dan menye barkan informasi pada setiap pengguna terkait.