Meneropong Penyakit Ikan 2019 Bagian 1

Penyakit ikan harus dapat diminimalkan dengan baik dan tepat agar tidak berdampak pada penurunan produksi dalam negeri. Pembudidaya yang tidak mengenal secara menyeluruh penyakit ikan akan berpotensi melakukan kesalah an dalam penanggulangannya. Wabah penyakit tersebut dapat meningkatkan risiko penurunan ekonomi dan menghambat perkembangan industri. Hal ini terbukti dalam data produksi perikanan nasional.

Menurut Slamet Budi Prayitno, Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK), Universitas Diponegoro, Semarang, Jateng, budidaya ikan Indonesia mengalami penurunan produksi signifikan. Mengutip data Kementerian Kelautan dan Per ikanan (KKP), target produksi yang dicanangkan pada 2017 adalah 22,79 juta ton, sementara capaiannya hanya 16,09 ju ta ton. Sama halnya dengan target 2016 sebesar 20 juta ton, cuma terealisasi 16,6 juta ton. Hal tersebut terjadi karena ada wabah penyakit yang belum ditangani dengan tepat.

Penyebab utamanya adalah penyakit infeksi pada budidaya air tawar. Lainnya, kematian massal akibat gas beracun, oksigen, serta kematian sporadis karena parasit dan protozoa. Ancaman Penyakit Ikan Pria yang disapa Budi itu menyampaikan, komoditas perikanan budidaya yang sering terserang penyakit adalah rumput laut, udang, nila, lele, bandeng, patin, mas, dan gurami. Contohnya, rumput laut meng alami penurunan karena penyakit ice-ice sehingga produksi 2016 yang mencapai 11,63 juta ton turun menjadi 10,45 ju ta ton pada 2017. “Penyakit yang menyerang rumput laut itu berdampak pada penurunan produksi mencapai 10,11%.

Di sisi lain, potensi areal budidaya rumput laut masih banyak, sekitar 12 ribu ha, sedangkan pemanfaataannya baru mencapai 10%,” jelasnya dalam acara Outlook Penyakit Ikan dan Udang, Jakarta (29/11). Sementara, penyakit yang mengganggu produksi perikanan nasional pada 2018 adalah Streptococciasis, Aeromoniasis, Iridovirus, Nocardiasis, Carp Edema Virus (CEV), Abalone Viral Ganglioneuritis (AVG). Streptococciasis merupakan penyakit pada nila yang menyebabkan kematian sangat tinggi. Serangan penyakit Aeromono niasis pada ikan biasanya disebabkan buruknya kualitas air kolam.

Sedangkan, Iridovirus paling riskan meng infeksi kerapu. Ikan yang terinfeksi penyakit ini menunjukkan gejala klinis lemas dan malas berenang sehingga terlihat berdiam diri di permukaan air. Warna ikan juga terlihat gelap dan insangnya pucat. Penyakit AVG menyebar dari Australia, China, Taiwan, hingga Jepang. Penyakit ini di sebabkan Abalone Herpes-like Virus (AbHV) berukuran 100-110 nm dengan bentuk ikosahedral. Epizootik atau serang an penyakit bervariasi terjadi pada suhu 15°- 20°C dan tingkat kematian yang diakibatkan mencapai 90%100%. CEV menyerang koi ukuran 1-2 g/ekor.