Kursus Calistung Semakin Melambung Bagian 1

Pro kontra tentang stimulasi membaca, menulis, dan berhitung masih berlangsung. Yang pro bilang, belajar calistung di usia 3 hasilnya enggak tanggung-tanggung. Yang kontra bilang, anak balita tidak harus bisa calistung. Alhasil, sebagian orangtua bingung. Ditambah, di SD nanti bukunya semakin “menggunung”.

Siang itu, seorang perempuan paruh baya berwajah Arab duduk menunggu cucunya yang sedang ikut kursus membaca di bilangan Duren Sawit, Jakarta Timur. Perempuan cantik yang biasa dipanggil Oma ini sepertinya sudah terbiasa berbincang-bincang dengan orangtua yang baru ditemuinya di ruang tunggu. Buktinya, sekali diajak bicara, ceritanya langsung mengalir panjang.

Menurut Oma, Si Abang, cucunya yang berusia 6 tahun, belum terlalu lancar membaca. Padahal ia sudah diterima di sebuah SD swasta. “Dia kalau membaca dalam bahasa Inggris dan Arab malah lebih lancar. Di TK-nya dia memang memakai bahasa Inggris dan belajar baca Alquran. Tapi, kan, nanti di SD kalau belum lancar baca dalam bahasa Indonesia, dia bisa ketinggalan.”

Lantas mengapa Si Abang tidak belajar membaca di rumah saja? “Di rumah belajarnya cuma mau sebentar. Kalau sudah bosan, dia salah-salahin deh bacanya supaya saya kesal dan berhenti,” ung kap Oma yang tak lama kemudian dirubung oleh Abang dan adiknya yang juga ikut kursus di situ. “Adek senang ya tadi belajar?” tanya nakita pada cucu Oma yang berusia 4 tahun.

Si Adek lantas mengangguk dan tersenyum. Mungkin ia cuma asal mengangguk, tapi kalau belajar di tempat kursus itu tidak menyenangkan, pastinya anak kecil tidak akan bohong. “Si Abang malah minta TK-nya pindah ke sini saja,” ujar Oma untuk meyakinkan bahwa metode belajar yang diterapkan di situ disukai kedua cucunya.

DENGAN GURU LEBIH EFEKTIF

Kalau dilihat-lihat, materi belajar yang digunakan di kursus sama saja dengan materi yang biasa didapat dari majalah atau buku aktivitas anak prasekolah. Misalnya, anak diminta menuangkan garis mengikuti titik-titik yang membentuk huruf. “Memang benar, metode yang diterapkan bisa juga diterapkan oleh orangtua. Tapi, kenyataannya tidak semudah itu, karena anakanak cenderung sulit jika belajar dengan orangtua. Beda jika diajar oleh guru,” ujar Sri Mulyani, pemilik PIKA Rimbaca, Pondok Aren, Tangerang Selatan, yang juga dikunjungi nakita.

Pendapat yang sama dilontarkan Ni Kadek Sudiarti yang memasukkan putrinya, Ni Putu Monik Shanty Dewi (6) ke sebuah kursus calistung. ”Bukan saya tidak mau, tapi mengajari anak membaca kadang tidak mudah, sehingga saya memasukkannya ke kursus membaca meski saya seorang ibu rumah tangga.”

Keunggulan guru dalam mengajar memang susah dilawan. Selain dibekali metode mengajar, orangnya juga sebagian jauh lebih sabar. “Kami sama sekali tidak menerapkan punishment ketika anak tidak mau belajar, tetapi kami mengutamakan reward,” kata pendiri dan pemilik Easy Reader, Herlina Mustikasari SPd, MA, PhD. “Anak akan mendapatkan poin jika berhasil menyelesaikan pelajarannya. Poin tersebut dikumpulkan dan nanti bisa ditukarkan dengan barang. Jika anak menyukai mobilmobilan misalnya, maka guru akan memanfaatkan mobil-mobilan sebagai salah satu media pembelajaran supaya semangat.”

Nah, anak mana yang tak senang dapat hadiah seperti itu? Sementara di rumah, kalau si kecil terlihat ogah-ogahan, barangkali Mama dan Papa malah marah-marah. Solusinya, kursus calistung! Sekali dayung, dua, tiga pulau terlampaui. Sambil kurus calistung, anak terstimulasi.

Bukti kelebihan guru dan kekurangan orangtua dalam hal mengajar dialam i sendiri oleh Yestri Suarni, Kepala Unit bimBA AIUEO, Kampung Rumbut, Depok. “Kelebihan kami adalah menumbuhkan minat baca tanpa dipaksa. Konsep yang kami gunakan adalah fun learning. Kami tidak langsung menyodorkan buku berisi huruf atau kata, melainkan berbagai aktivitas menyenangkan seperti bernyanyi, bermain, dan mewarnai. Pernah ada kasus, anak yang belajar di sini mogok. Setelah diselidiki, ternyata saat di rumah ia dipaksa untuk belajar membaca oleh orangtuanya de ngan modul kami. Meski materinya sama, kalau caranya beda, hasilnya tidak akan sama,” ungkapnya.

baca juga artikel selanjutnya : https://muddycolourmayhem.com/kursus-calistung-semakin-melambung-bagian-2/