Investasi Pendukung Industri Mobil Listrik Bertambah

Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika Kementerian Perindustrian, Harjanto, mengatakan investasi sektor pendukung industri listrik makin besar. Dia memberi contoh masuknya perusahaan asal Cina yang akan menggarap pertambangan nikel dan memproduksi baterai mobil listrik dengan modal Rp 144 triliun. “Mereka akan beroperasi di Halmahera Utara, Maluku. Ini akan kami arahkan untuk produksi baterai mobil listrik,” kata dia seusai diskusi mengenai pengembangan kendaraan listrik di Indonesia Convention Exhibition, Bumi Serpong Damai, Tangerang Selatan, Banten, kemarin.

Menurut Harjanto, pengembangan baterai sebagai komponen utama mobil listrik sangat penting mengingat pemasoknya saat ini masih terbatas, yakni Jepang, Korea Selatan, dan Cina. Karena itu, dia juga mendorong perusahaan pertambangan mineral lokal, seperti PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau Inalum, untuk menggarap produksi baterai. Meski enggan merinci profil investor tersebut, Harjanto berharap perusahaan itu segera merealisasikan komitmennya.

Dia mengatakan pemerintah menawarkan insentif berupa pembebasan pajak untuk sementara waktu atau tax holiday. Ada juga super deductible tax berupa pengurangan pajak 200-300 persen bagi perusahaan yang menyelenggarakan pendidikan vokasi serta riset dan pengembangan yang berkaitan dengan industri mobil listrik. Rencana investasi perusahaan Cina di Halmahera terungkap pekan lalu.

Saat itu, Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan telah menerima laporan rencana penanaman modal Tsingshan Group dari Cina yang bekerja sama dengan Eramet Group, perusahaan Prancis. Keduanya akan membangun pabrik olahan mineral jenis nikel, seperti baja tahan karat hingga baterai. Peneliti dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Universitas Indonesia, Chaykal Nuryakin, mengatakan pemerintah mesti memberikan insentif fiskal dan nonfiskal untuk pengembangan produksi maupun pasar mobil listrik.

Bagi konsumen, kata dia, insentif tersebut diperlukan untuk mendorong keinginan memiliki kendaraan listrik. Di samping insentif fiskal untuk membuat harga mobil listrik terjangkau, konsumen juga harus diberi pemanis lain. “Misalnya ada fasilitas khusus untuk pemilik mobil listrik,” ujar dia. Hasil riset LPEM UI menyebutkan insentif fiskal dan nonfiskal yang agresif bisa mendorong pangsa pasar kendaraan terelektrifikasi, seperti mobil hibrida dan mobil listrik, hingga 20 persen. Secara umum, kata Chaykal, konsumen menghendaki selisih harga maksimum mobil listrik dan hibrida dengan kendaraan konvensional tak lebih dari 7 persen. “Ini agar target pangsa pasar 20 persen bisa tercapai.”

Dalam pemakaian mobil listrik diperlukan sumber energi listrik untuk mengisi daya. Namun ketika listrik PLN sedang padam, sumber energi listrik dapat dihasilkan melalui genset. Sebuah genset menggunakan bahan bakar diesel agar dapat menghasilkan listrik. Merk genset terbaik adalah genset Perkins. Selain irit bahan bakar juga memiliki mesin yang awet. Harga genset Perkins 100 Kva bisa didapatkan dengan harga yang murah apabila membelinya dari Distributor resmi genset.