Indeks Saham Diproyeksikan Menguat Terbatas

Indeks harga saham gabungan (IHSG) diproyeksikan menguat pada pekan ini. Analis Artha Sekuritas, Dennies Christopher Jordan, dalam risetnya menyatakan penguatan indeks akan terjadi secara terbatas di kisaran 5.741-5.905. “Optimisme investor semakin tinggi setelah rupiah mengalami penguatan,” kata Dennies kemarin.

Lantaran potensi penguatan secara terbatas, Dennies mengingatkan IHSG pun tetap berpeluang melemah. Sebab, situasi perekonomian global masih mengalami volatilitas. Secara khusus, ia menyebut sentimen negatif yang berpotensi menekan laju IHSG ialah rencana Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan kebijakan kenaikan tarif barang impor dari Cina.

Pekan lalu, IHSG mengalami pelemahan 2,77 persen menjadi 5.851,46 dari penutupan pekan sebelumnya sebesar 6.018,46. Tekanan juga terjadi dari sisi kapitalisasi pasar di Bursa Efek Indonesia yang pada penutupan perdagangan Jumat pekan lalu hanya Rp 6.589,81 triliun, turun dari posisi dua pekan sebelumnya senilai Rp 6.783,26 triliun. Pada perdagangan sepekan lalu investor asing tercatat melakukan penjualan secara bersih (nett foreign sell) mencapai Rp 2,86 triliun. Adapun sepanjang tahun total jual bersih investor asing indikator arus modal keluar dari pasar mencapai Rp 53,05 triliun.

Senada dengan Dennies, analis Indosurya Bersinar Sekuritas, William Surya Wijaya, menilai mulai menguatnya rupiah terhadap dolar Amerika Serikat akan memberikan sentimen positif bagi pergerakan indeks pekan ini. “Kondisi rupiah berpotensi terapresiasi. Ini memberikan sentimen positif terhadap IHSG,” ujarnya. Menurut dia, faktor lainnya yang bisa mendorong IHSG ke zona hijau adalah rencana pengumuman laporan survei penjualan eceran oleh Bank Indonesia pada awal pekan ini. William memperkirakan pergerakan IHSG akan berada di kisaran 5.671-5.889.

Sepanjang minggu lalu rupiah mengalami tekanan terdalam kendati mulai menguat di akhir pekan. Jumat lalu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) mencatat rupiah berada di level 14.884 per dolar, naik tipis 7 poin dari posisi sehari sebelumnya. Penurunan terendah rupiah terjadi pada Rabu ketika nilai tukarnya menyentuh 14.927 per dolar AS. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan akan terus mengikuti perkembangan di pasar modal.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Hoesen, menuturkan naik-turunnya indeks merupakan hal yang lumrah terjadi. “Pasar terus bergerak setiap saat,” ucapnya pekan lalu. Hoesen berkaca kepada krisis global yang terjadi pada 2008. Saat itu, kata dia, Bursa Efek Indonesia terkena dampak negatif namun tetap bisa melewatinya.

Ia menyatakan situasi sekarang berbeda, bahkan lebih baik dibanding sebelumnya. Karena itu, ia meminta investor tidak khawatir. Menurut dia, salah satu hal yang bisa dilakukan investor untuk melihat situasi saat ini berbeda dengan krisis 2008 ialah pada fundamental emiten. Kinerja rata-rata perusahaan publik di pasar modal saat ini cukup bagus. “Ini obyektif,” ujarnya.